WEBINAR PGSD FKIP UNIVERSITAS TERBUKA

WEBINAR PGSD FKIP UNIVERSITAS TERBUKA

Membangun Karakter Bangsa dari Sekolah Dasar: Pencegahan dan Penanganan Kekerasan melalui Pedagogi Humanis

Maraknya kasus kekerasan di lingkungan sekolah dasar menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan. Kekerasan baik fisik, verbal, sosial, maupun psikologis sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai kenakalan biasa, bercanda, atau bagian dari pendisiplinan. Padahal, praktik-praktik tersebut dapat melukai martabat anak, merusak rasa aman, serta menghambat tumbuh kembang karakter yang sehat sejak usia dini.

Merespons tantangan tersebut, Program Studi PGSD FKIP Universitas Terbuka menyelenggarakan Webinar Nasional bertema “Membangun Karakter Bangsa dari Sekolah Dasar: Pencegahan dan Penanganan Kekerasan melalui Pedagogi Humanis”. Webinar yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu, 11 Februari 2026, pukul 13.30–16.30 WIB. Webinar ini ditujukan tidak hanya bagi guru dan calon guru sekolah dasar, tetapi juga bagi orang tua, orang dewasa, pemerhati pendidikan, serta para pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap masa depan anak dan karakter bangsa.

Kegiatan ini dibuka dengan sambutan Dekan FKIP Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ucu Rahayu, M.Sc., serta Ketua Program Studi PGSD, Monika Handayani, yang menegaskan komitmen FKIP UT dalam membangun pendidikan dasar yang aman, bermartabat, dan berorientasi pada kemanusiaan. Webinar menghadirkan dua narasumber utama lintas disiplin, yakni Prof. Dr. Otib Satibi Hidayat, Guru Besar PAUD Universitas Negeri Jakarta, dan Haniva Hasna, Kriminolog dari Universitas Indonesia.

Dalam paparannya, Prof. Otib Satibi Hidayat menegaskan bahwa pencegahan kekerasan di sekolah dasar harus dimulai dari cara pandang terhadap hakikat pendidikan. Pendidikan, sebagaimana ditegaskan Ki Hadjar Dewantara, adalah proses pembudayaan budi manusia agar mampu hidup selaras dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Ketika sekolah gagal membaca perubahan zaman—termasuk pergeseran karakter generasi, perkembangan teknologi, dan perubahan pola interaksi sosial relasi pendidikan berisiko berubah menjadi relasi kuasa yang melahirkan kekerasan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Prof. Otib menekankan bahwa sekolah dasar adalah fondasi pembentukan karakter bangsa, bukan sekadar tempat penyampaian materi kurikulum. Pada fase ini, anak sedang membangun sikap, nilai, empati, dan rasa aman. Pendekatan yang terlalu menekankan hukuman, pelabelan, atau kepatuhan formal justru bertentangan dengan tujuan pendidikan dasar. Data dan kajian yang dipaparkan menunjukkan bahwa kekerasan verbal dan sosial, seperti ejekan, pengucilan, dan perundungan merupakan bentuk kekerasan yang paling dominan di sekolah, namun sering tidak terdeteksi karena dianggap wajar atau bercanda. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya sistem pelaporan dan perlindungan anak di sekolah dasar

Webinar PGSD UT_26 (Prof. Otib)

Sebagai solusi, Prof. Otib menegaskan pentingnya pedagogi humanis, yaitu pendekatan pendidikan yang memandang anak sebagai manusia utuh dengan potensi, pengalaman, dan kebutuhan emosional. Guru tidak lagi ditempatkan sebagai otoritas tunggal, melainkan sebagai fasilitator, teladan, dan pendamping tumbuh kembang anak. Pendidikan di era abad ke-21, menurutnya, juga perlu bergeser dari orientasi human resource development menuju human capacity development, agar sekolah mampu memanusiakan manusia di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.

Sementara itu, dari perspektif kriminologi, Haniva Hasna mengajak peserta untuk mengubah cara pandang terhadap perilaku anak. Ia menegaskan bahwa istilah anak nakal sejatinya adalah label yang diberikan oleh orang dewasa. Anak-anak tidak memahami tindakannya sebagai kenakalan; mereka sedang menyampaikan pesan. Ia mencontohkan kasus seorang anak yang sengaja memecahkan kaca sekolah. Setelah ditelusuri, tindakan tersebut bukan bentuk agresivitas, melainkan cara anak menyampaikan keinginan agar orang tuanya datang ke sekolah dan menunjukkan tanggung jawab. Dalam konteks ini, perilaku anak tidak dapat diukur dengan standar dan logika orang dewasa.

Haniva menekankan bahwa pendekatan kriminologi dalam pendidikan anak bukan untuk memberi stigma, melainkan untuk memahami konteks perkembangan perilaku, merancang intervensi yang tepat, dan memperkuat pencegahan melalui pendekatan pedagogi humanis. Kekerasan, menurutnya, tidak selalu bersifat fisik. Ejekan, hinaan, intimidasi, pengucilan, dan perundungan verbal dapat berdampak sangat serius. Ia menyoroti kasus siswa sekolah dasar yang menolak masuk sekolah karena setiap hari dipanggil “bodoh” oleh teman-temannya, sementara guru menganggapnya sebagai bercanda. Padahal, bercanda seharusnya membuat semua pihak merasa senang dan aman, bukan sebaliknya.

Lebih lanjut, Haniva menjelaskan bahwa kenakalan dan kekerasan adalah hasil belajar. Anak belajar dari lingkungan terdekatnya keluarga, sekolah, teman sebaya, serta media digital. Ketika kekerasan digunakan atas nama pendisiplinan, atau ketika sekolah dan orang dewasa bersikap abai, anak menyerap pola tersebut sebagai sesuatu yang normal. Dalam konteks ini, media digital bahkan kerap menjadi pengasuh kedua, atau pengasuh utama ketika orang dewasa tidak hadir secara utuh dalam kehidupan anak. Kekerasan demi kekerasan yang dialami anak, sekecil apapun akan memicu dendam yang tersembunyi, lama kelamaan yang mencapai puncaknya. Hal ini semakin menagaskan bahwa kita harus melihat kekerasan yang dilakukan oleh anak sebagai konteks, sehingga kita lebih dapat melihat secara lebih mendalam bahwa sesusngguhnya mereka butuh pendampingan dan kasih sayang, bukan hukuman. Untuk itu, “kita jangan buru-buru memebrikan label dan menghukum mereka”, tegas Haniva. 

Melalui webinar ini, PGSD FKIP Universitas Terbuka menegaskan peran strategisnya dalam membekali calon guru dan guru sekolah dasar dengan pemahaman, kepekaan, dan keterampilan pencegahan kekerasan berbasis pedagogi humanis. Pendidikan dasar tidak dapat direduksi menjadi urusan akademik semata, melainkan harus dipahami sebagai ruang pembentukan karakter, empati, dan peradaban.

Webinar ini menjadi ajakan reflektif bagi semua pihak guru, orang tua, masyarakat, dan pemangku kebijakan bahwa membangun karakter bangsa dimulai dari keberanian untuk memanusiakan anak sejak sekolah dasar, membaca pesan di balik perilaku mereka, serta menghadirkan pendidikan yang aman, adil, dan bermartabat bagi setiap anak.

Admin Dibaca 34 kali